Ilustrasi : Anak-anak mengejar pesawat - (foto by shutterstock)

Anak-Anak Pemburu Pesawat

Bagikan Ke
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

KataKerja.id, CATATANKAKI – Ketika masih berusia 6-7 tahun era 70-an, setiap pesawat melintas di atas langit Parepare, menjadi sebuah pemandangan menakjubkan dan langka.

Kami biasanya berlarian keluar rumah, dengan kepala mendongak sambil memicingkan mata mencari posisi pesawat terbang yang suara mesinnya terdengar dari kejauhan. Kadang berhasil, tidak jarang juga gagal melihat burung besi melayang itu di angkasa.

Untuk mengobati kekecewaan, biasanya kami langsung membuat pesawat tiruan dari kertas lalu memainkannya sesuka hati. Semakin jauh melayang meliuk-liuk, semakin jauh pula kita membuang kecewa atas pesawat yang sebelumnya berlalu tanpa bekas.

Tapi sekali waktu berhasil menangkap dengan mata telanjang pesawat terbang itu membelah langit, kami pun menatapnya bagai kuncian rudal pesawat tempur F15. Mata tak berkedip sekejap pun, hingga pesawat itu berlalu menjauh sekecil biji merica.

Beda lagi dengan pesawat helikopter yang terbang rendah. Kehadirannya bahkan bisa mengundang huru hara. Ketika pesawat baling baling raksasa ini meraung raung di udara, dipastikan seluruh aktifitas anak anak sebaya saya pada masa itu, berantakan. Yang lagi belajar, akan berhamburan keluar kelas, tak peduli guru sedang berbusa-busanya mengajar berhitung, yang lagi work from home membantu ibu di dapur juga sama liarnya.

Tak ada yang mampu menahan, belasan anak anak bergerak ke jalan tak ubahnya mengejar layang-layang putus, menuju arah helikopter yang sudah dipastikan secara insting bakal mendarat di Lapangan Andi Makkasau di jantung kota Parepare tempat yang kini jadi lokasi Patung Cinta Abadi Habibie-Ainun berdiri.

Mereka yang tetap tinggal dalam kelas akan dianggap musuh bersama, karena kompak melakukan salah berjamaah. Tatkala helikopter itu mendarat ratusan anak anak memutari besi terbang itu bagai berhala yang turun dari langit.

Memang kita dilarang mendekat apalagi menyentuhnya, lebih terlarang dari benda yang dikeramatkan. Tapi menatapnya tanpa henti sambil memperbincangkan segala teori kemungkinan yang membuat barang ini bisa terbang mengangkut orang dan barang, sungguh kepuasan tak tertandingi.

Puncaknya ketika sang helikopter akan tinggal landas. Ia menerbangkan debu serta benda ringan apapun di sekitarnya. Kita semua pun semampunya bergeming dari tempat. Semakin deras rambut, baju diterbangkan semakin kencang hembusan angin baling balingnya menerpa bersama debu tebal, semakin heroik rasanya, kelak jadi bahan cerita hingga malam tiba.

Dunia anak masa uji coba panca indra, nalar dan logika. Lima puluh tahun kemudian, tepat pada Hari Anak 23 Juli 2020, saya melintas dengan helikopter jenis Eurokopter EC 155 di atas langit Parepare bersama sama Pak Jusuf Kalla, Nurdin Abdullah, Hamid Awaludin dan Sudirman Said.

Teringat saya penggalan cerita masa lalu yang bagi anak-anak melenial, dianggapnya dongeng.  Tidak foto berarti hoaks. Mereka pasti agak agak sulit percaya kisah heroik kombinasi antara keterbelakangan dan rasa ingin tahu.

Karena itu ketika melintas di langit Parepare seusai meninjau banjir Masamba, saya yakin tidak ada lagi anak anak yang berlarian sekedar untuk melihat pesawat helikopter. Bagi anak masa kini, itu bukan barang baru.

Teman teman kanak kanak saya, seperti Rustan Lasse dan Bustam Husain yang dulunya pelaku-pelaku utama pencari “koordinat pesawat terbang,” pun lebih memilih sarungan dalam bilik rumahnya yang kini berpendingin sambil memainkan gadget membaca dan membalas setiap pesan yang masuk.

Dunia anak penuh perubahan yang terlalu panjang untuk menuliskannya. Suatu ketika, cerita anak masa kini pun bakal seperti dongeng 30-50 tahun lagi.

(Catatan Hari Anak 23 Juli 2020)

Penulis,

Husain Abdullah

(Juru Bicara mantan Wapres Jusuf Kalla)

 

 

Bagikan Ke
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Topik Terkait

About Us

Katakerja.id adalah perusahaan pers dengan platform berita berbasis online yang dibuat berlandaskan kaidah-kaidah jurnalisme yang baik dan benar. Kami berharap bisa memberi manfaat dalam upaya menghadirkan optimisme dan menciptakan semangat positif di negeri ini.

Office

©2021  |  

katakerja.id  |  

Cari Berita ?

Mau Lihat Arsip ?

Arsip Berita Kami