Suasana di Hutan Pinus Lembanna - (foto by SAR Unhas)

Hari Ini Saya Kaget, Nyaris Tiga Kali!

Bagikan Ke
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

KataKerja.idCATATANKAKI – Bukan cuma presiden yang gampang kaget, saya juga. Hari ini misalnya, saya kaget dua kali, nyaris tiga kali. Pertama, saya terkaget-kaget mendapat kabar bahwa aksi pencurian kian marak di Lembanna.

Lembanna itu nama sebuah dusun di kaki Gunung Bawakaraeng. Terletak di Kecamatan Tinggimoncong Kabupaten Gowa. Dusun ini kampungnya para petualang. Dari sekian banyak jalur pendakian ke puncak Gunung Bawakaraeng, Lembanna memang yang paling diminati oleh para pendaki.

Salah satu alasannya mungkin karena jaraknya yang cuma sekitar 70-an kilometer dari Kota Makassar. Dan itu juga yang mungkin menjadi alasan hingga Lembanna dari dulu selalu ada dalam kisah-kisah petualangan para pengiat alam bebas.

Kampung kecil yang dingin itu mulai banyak berubah di akhir tahun 90-an. Jalan tanah merah berganti aspal. Tumpukan kayu bakar di dapur milik ammak berubah jadi tabung gas 3 kiloan. Puncaknya saat rumah-rumah warga saling terhubung oleh kabel-kabel listrik.

Sesekali saya masih suka menyempatkan diri untuk mengugurkan rindu di dusun dengan ketinggian sekitar 1500-an mdpl itu. Lembanna yang dulu sunyi sekarang tambah riuh. Pengunjungnya tak lagi didominasi anak-anak muda berbaju flanel dengan slayer di leher. Hutan pinus di pinggir kampung malah sudah seperti pasar malam. Semua jenis lagu ada. Ketika malam tiba, keriuhan bertambah dengan teriakan-teriakan bak tarzan dari para pengunjung yang entah apa tujuannya.

Tapi, mari kita abaikan semua perubahan itu. Yang bikin saya terkaget-kaget hari ini karena rupanya para pencuri juga sudah masuk di dusun yang keramahan warganya serupa rindu itu.

Sabtu kemarin, kolom komentar di grup facebook pecinta alam geger lagi. Rupanya si tangan panjang kembali beraksi. Kali ini mereka menyikat knalpot motor seorang pengunjung. Para pencuri itu menyasar apa saja. Ulah mereka sudah kian meresahkan. Mereka bahkan tak sekali dua kali merobek tenda para pengunjung.

Apapun caranya, semua pihak harus duduk bersama untuk mencari jalan keluar. Lembanna boleh berubah, tapi membiarkan aksi pencurian terus berulang itu haram hukumnya.

Tak selesai kekagetan saya pada aksi pencurian di Lembanna, hari ini saya kembali terkaget-kaget melihat ‘perang udara’ para pendukung calon Walikota Makassar di sosial media. Mereka bahkan sudah saling hujat dengan bahasa-bahasa yang seharusnya hanya dimengerti oleh para binatang.

Ini perang terbuka. Caci maki para pendukung benar-benar telah mempermalukan budaya saling mengingatkan, saling memanusiakan dan saling menghargai. Barbar.

Dan di penghujung malam, saya nyaris kembali kaget untuk ketiga kalinya. Tapi setelah berselancar di beberapa portal online terpercaya, saya batal kaget. Ini lagu lama. Aransemennya bahkan tak berubah sama sekali.

Berita yang nyaris bikin saya kaget itu tentang kelompok anak muda terpelajar yang di Jumat berunjuk rasa menolak undang-undang omnibus law dan di Senin memilih bersilaturahmi dengan gubernur.

Ini pertemuan biasa, silaturahmi. Eh, dalam pertemuan biasa-biasa saja itu, anak-anak muda terpelajar tersebut diberitakan minta bantuan ke gubernur. Katanya untuk sekretariat mereka. Wassalam. Selesai!

Penulis,

Abo Stanley

Makassar, Senin 12 Oktober 2020

 

Bagikan Ke
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Topik Terkait

About Us

Katakerja.id adalah perusahaan pers dengan platform berita berbasis online yang dibuat berlandaskan kaidah-kaidah jurnalisme yang baik dan benar. Kami berharap bisa memberi manfaat dalam upaya menghadirkan optimisme dan menciptakan semangat positif di negeri ini.

Office

©2021  |  

katakerja.id  |  

Cari Berita ?

Mau Lihat Arsip ?

Arsip Berita Kami