Poster film Haathi Mere Saathi - (foto by wordpress)

“Jangan Lupa Bawa Sapu Tangan, Film Sedih”

Bagikan Ke
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

KataKerja.id, CATATANKAKI – Saya tidak ingat persis usia saya berapa ketika itu. Tapi pastinya saya sudah berani keluar malam bersama teman-teman hingga larut, kemungkinan setara kelas empat atau lima sekolah dasar.

Saya di Parepare. Nun jauh di sana di kota Amritsar Punjab, Rajesh Khanna seorang aktor besar Bollywood Tahun 1966 merilis film pertamanya, Aakri Khat 1966. Usia saya masih dua tahun ketika film perdana Kaka, sapaan akrab Rajesh Khanna itu rilis. Lalu 1969 Rajesh Khanna, muncul dengan film hits Aradhana yang dibintanginya bersama aktris cantik Sharmila Thagore.

Sementara saya masih balita, Rajesh Khanna terus melejit bak meteor menyingkirkan aktor aktor kenamaaan Raj Kapoor dan Dilip Kumar. Berkat kebintangannya yang menggoncang layar perak, pada awal 70an film-film Rajesh Khanna akhirnya menembus bioskop Indonesia hingga merambah ke Parepare di awal 70 an.

Saat itu saya sudah beranjak kanak-kanak dan mulai “liar.” Setiap keluarga saya akan nonton film, dengan gesit saya mendahuluinya ke bioskop yang dituju. Tidak perlu minta diikutkan karena sudah pasti ditolak, jadi harus inisiatif sendiri urusan belakangan. Dan tebakan saya selalu jitu, pastinya mereka ke bioskop RAS, tempat film Rajesh Khanna yang masyhur itu ditayangkan.

Begitu tiba di bioskop, saya langsung menyambut, tidak peduli saya mau dimarahi atau tidak, yang penting ikut masuk diantara sesaknya penonton yang memadati pemutaran film Rajesh Khanna. Salah satu yang saya ingat, adalah film Prem Nagar, yang dibintangi Rajesh berpasangan Hema Malini. Tiket sold out. Di loket penonton berjibun membuat harga tiket membubung di tangan calo, yang banderolnya 50 rupiah, dijual sampai 100 rupiah.

Selebihnya sekitar pertengahan 70an saya sudah berani nonton solo film film Rajesh Khanna, selain tentu film silat Wang Yu, Lo Lieh dan Ti Lung, David Chiang. Momen itu datang ketika bioskop Ampera beroperasi di Parepare. Kenapa bioskop Ampera, karena bioskop ini “sopan” terhadap penonton pemula yang uang jajannya pas-pasan. Kalau harga tiket 20 rupiah, saya dengan teman teman bisa bayar setengahnya tapi lewat pintu belakang, kadang-kadang harus manjat dengan bantuan anak-anak bioskop.

Saat itulah puncak-puncaknya saya menikmati film-film romantis Rajesh Khanna yang box office di berbagai bioskop utama, seperti Aradhana, Do Raste, Kati Patang dan yang paling berkesan tentunya film Haathi Mere Saathi (Gajah Kawanku). Begitu banyaknya penonton, sepertinya balkon bioskop Ampera yang terbuat dari papan nyaris rubuh.

Rajesh Khanna yang bermain dengan Tanuja, membuka film ini dengan lagu happy Chal Chal Mere Saathi. Seperti biasa penonton dibuai kebahagiaan, lalu perlahan lahan film yang mengisahkan persahabatan Rajesh Khanna dengan seekor gajah terlatih mengaduk aduk emosi penonton hingga klimaksnya sang gajah mati mengenaskan yang menyisahkan kesedihan mendalam.

Gambar film Haathi Mere Saathi, diarak keliling kota Parepare sebelum tayang. Berulang ulang, juru penerang yang mengantar baligho film, mengingatkan agar penonton tidak lupa membawa sapu tangan saat menyaksikan film Haathi Mere Saathi, karena film ini dipastikan sedih dan menguras air mata. “Jangan lupa bawa sapu tangan, film sedih,” kata announcernya.

Faktanya memang begitu, seisi bioskop berkabung seketika Rajesh Khanna menyanyikan lagu perpisahan “Nafrat ki Duniaya” secara lip sync yang aslinya dilantunkan Kishore Kumar, untuk gajah kesayangannya yang tewas tertembak.

Penonton lesu diam membisu, hanya sayup-sayup terdengar suara isak tangis dari mereka yang sebagian duduk beralaskan kardus di lorong bioskop berlantai tanah dan berdinding papan.

Dalam kurun waktu sangat singkat, 1966-1973 Rajesh Khanna mencetak sedikitnya 15 film box office. Sekalipun aktor yang terbilang gagah, flamboyan dan fashionalbe ini, total membintangi sedikitnya 150 film hingga dia beralih ke pentas politik tahun 90an.

Rajesh Khanna seorang yang sangat dipuja penggemar Bollywood pada masanya. Hingga banyak media kesulitan menggambarkan bagaimana popularitas dan kecintaan pendukungnya kepada Rajesh yang jauh melampaui bintang-bintang Bollywood sebelumnya. Bahkan andaikan Rajesh muda memerankan film-film karya Yash Chopra yang biasa dibintangi Shah Rukh Khan dan AmmitabBachan, sentuhannya pasti lebih dahsyat.

Rajesh tak pandai menari, tapi lirikan mata dan senyumnya penuh pesona sebagai bintang film drama asmara. Rajesh jadi simbol cinta. Rajesh adalah dewa film-film romantis Bollywood awal 70an. Hingga publikasinya di India menjadikan Rajesh Khanna sebagai bintang Bollywood pertama yang dijuluki “Super Star.”

Semua penghargaan telah ia raih, tapi itu serasa tidak cukup untuk menggambarkan kebintangannya yang tak tertandingi, hingga aktor fenomenal, yang kerap menyampaikan dialog-dialog dalam filmnya dalam bentuk syair, dijuluki Super Star. Saat ini memang tersisa Amitabbachan dan ShahRukh Khan sebagai mega bintang Bollywood, tapi Rajesh Khanna adalah orang pertama yang disebut Super Star di negerinya yang berpenduduk lebih 1 miliar jiwa itu.

Popularitas, bayaran dan penghasilan berlimpah, gaya hidup mobil sport, membuat Rajesh Khanna larut. Dia begitu berkuasa di Bollywood, ia digambarkan seorang aktor dengan sentuhan midas, karena film-filmnya yang laku keras. Kalau tak sesuai seleranya produksi film bisa batal, hingga ia melebihi segalanya termasuk penulis skenario dan sutradara sekelas Salim Khan dan Javed Akhtar yang begitu dihormati insan film Bollywood.

Di saat yang sama, dinamika dan pergolakan sosial di India yang tinggi. Sehingga tema-tema film Bollywood pun bergeser, yang sekaligus memunculkan bintang lain yang sudah lama mengantri di balik baying-bayang kebesaran nama Rajesh Khanna. Itulah yang perlahan menggerogoti Rajesh, dan tempatnya harus ia relakan kepada Amitabbachan yang lalu melejit dengan film tema kriminal, sosial, korupsi dan kebobrokan polisi India.

Tapi Rajesh Khanna ternyata tetaplah seorang legenda. Bicara tentang Bollywood maka tak lengkap tanpa pria kelahiran 1942 ini. Ketika meninggal 18 Juli 2012, Akhsay Kumar menantunya (suami Twinkle Khanna, hasil pernikahan Rajesh dengan Dimple Kapadia) mengumumkan kabar duka itu, ribuan orang datang mengantar jenazah sang legenda Bollywood.

 

Penulis

Husain Abdullah (Juru bicara Mantan Wapres JK)

Makassar, 20 Juni 2020

 

 

Bagikan Ke
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Topik Terkait

About Us

Katakerja.id adalah perusahaan pers dengan platform berita berbasis online yang dibuat berlandaskan kaidah-kaidah jurnalisme yang baik dan benar. Kami berharap bisa memberi manfaat dalam upaya menghadirkan optimisme dan menciptakan semangat positif di negeri ini.

Office

©2021  |  

katakerja.id  |  

Cari Berita ?

Mau Lihat Arsip ?

Arsip Berita Kami