Ilustrasi : Koki - (foto by topcareer)

Memimpin dengan Filosofi Koki

Bagikan Ke
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

KataKerja.idCATATANKAKI – Masyarakat biasa diuji ketahanan fisik dan mentalnya menghadapi pandemi Covid-19. Sementara Presiden, Gubernur, Walikota, Bupati, hingga Lurah dan Kepala Desa diuji kualitas kepemimpinannya agar wilayahnya tetap berada pada zona hijau. Dan keluar dari zona merah jika hal tersebut terjadi.

Untuk lulus dari ujian ini, pemimpin di daerah harus melakukan tindakan atau action, dan bersikap ‘yakin bisa’. Damar Ruci, dalam bukunya berjudul ‘Memimpin dengan Filosofi Koki’ menganalogikan pemimpin itu sama dengan koki ketika berhadapan dengan masalah.

Bagaimana koki menyusun rencana dan menemukan solusi ketika ada masalah? Menurut Damar, koki sepenuhnya dinilai berdasarkan actionnya, bukan omongannya. Orang lain baru percaya jika ia koki yang hebat setelah membuktikan memang ia pintar memasak.

Koki pada saat menyusun rencana memasak, sangat yakin rencananya bisa diimplementasikan. Kalaupun ada masalah, ia juga yakin masalah tersebut bisa diatasi. Koki berorientasi pada proses memasak dan implementasi.

Menyusun rencana dan strategi sangatlah penting. Tetapi rencana dan strategi tidak ada artinya tanpa eksekusi atau implementasi.

Demikian juga pemimpin, seorang pemimpin harus berorientasi pada proses eksekusi. Pemimpin pada saat menyusun rencana harus tahu masalah-masalah dan hambatan-hambatan yang akan menghalangi. Namun ia harus yakin bisa mengatasi masalah dan hambatan tersebut. Keyakinan diri pada tahap eksekusi sangat penting.

Pemimpin yang tidak yakin rencanannya bisa diekseskusi, bukanlah pemimpin, tetapi baru sebatas perencana. Seorang pemimpin harus bisa merencanakan sekaligus bisa mengeksekusinya.

Pada buku ini juga diulas mengenai peran pembantu koki jika yang dimasak dalam porsi besar. Koki hanya meracik bumbu, dan pekerjaan lain didelegasikan kepada pembantu koki. Jika ingin menjadi pemimpin yang efektif, delegasi menjadi sebuah keharusan.

Pemimpin yang tidak melakukan delegasi, berarti ia tidak menginginkan dirinya bertambah besar. Pemimpin seperti ini pemimpin yang ‘membonsai’ dirinya sendiri.

Penulis

@zaza_ridwan

Sinjai, 16 September 2020

Bagikan Ke
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Topik Terkait

About Us

Katakerja.id adalah perusahaan pers dengan platform berita berbasis online yang dibuat berlandaskan kaidah-kaidah jurnalisme yang baik dan benar. Kami berharap bisa memberi manfaat dalam upaya menghadirkan optimisme dan menciptakan semangat positif di negeri ini.

Office

©2021  |  

katakerja.id  |  

Cari Berita ?

Mau Lihat Arsip ?

Arsip Berita Kami