Suasana saat pelaksanaan Musik Hutan tahun 2016 silam - (foto by MusikHutan)

Musik Hutan, Ini Sejarahnya!

Bagikan Ke
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

KataKerja.id, DESTINASI – Ini kisah tentang sejarah Musik Hutan, sebuah even yang memadukan seni, kreatifitas, semangat, independensi dan kecintaan terhadap alam semesta.

Cerita ini bermula dari mimpi yang lahir di sebuah lembah bernama Ramma yang terletak di antara Gunung Bawakaraeng dan Gunung Lompobattang, medio 2007 silam.

Di bawah selimut kabut yang datang dan pergi diam-diam di lembah itulah, ide untuk membuat sebuah pentas musik di tengah lebatnya hutan lahir dari beberapa anak muda yang saat itu tengah nge-camp di Lembah Ramma. Namun, tak sesederhana memimpikannya, dibutuhkan waktu 7 tahun untuk mewujudkan ide besar tersebut.

Musik Hutan I 2014

Logo Musik Hutan 2014

Sepulang dari menikmati acara Jazz Gunung yang dihelat di Gunung Bromo, Jawa Timur, tahun 2014, obrolan para pemimpi di Lembah Ramma 7 tahun silam itu pun kembali mengemuka. Idenya tetap sama, pertunjukan musik di tengah hutan. Niatnya ingin menghadirkan konsep berbeda. Salah satunya yakni memberi ruang bagi musisi lokal dan menjaga kelestarian alam.

Dan, di sebuah malam di bulan Mei 2014, bertempat di sebuah warung kopi di jalan Arief Rate Makassar, berkumpullah belasan anak muda dengan beragam hobi dan skill. Mereka menggodok mimpi. Pembahasan berubah serius. Ide-ide liar dirangkum penjadi potongan-potongan puzzle konsep yang akhirnya bermuara pada lahirnya sebuah kesepakatan untuk membuat sebuah even bertajuk ‘Musik Hutan’.

Kumpulan para anak band, designer grafis, sound engineer, mahasiswa pecinta alam, fotografer, videografer hingga art director itu pun berbagi peran.

Tim awal bertambah, pesat. Jumlahnya bahkan mencapai angka 30-an orang. Beberapa bertugas melakukan survei lapangan, sebagian lainnya mempersiapkan promosi, mengurus tiketing, perijinan dan administrasi, hingga menyusun konsep acara serta menghubungi para talent.

Mereka pun bersepakat menjadikan kera Macaca Maura, binatang endemik Sulawesi Selatan sebagai maskot Musik Hutan.

Mimpi panjang itu akhirnya berubah nyata pada tanggal 5 hingga 7 Agustus 2014. Sejarah mencatat hari tersebut sebagai momen lahirnya sebuah even karya anak-anak muda kreatif Makassar yang kelak mengambil peran besar dalam pengembangan industri musik, industri kreatif dan dunia pariwisata di Sulawesi Selatan.

Digelar di Hutan Pendidikan Unhas, Bengo-Bengo, Kabupaten Maros, perhelatan Musik Hutan pertama yang mengusung tema ‘Teduhnya Nada’ berhasil menarik animo masyarakat, khususnya dari kalangan generasi muda. Tak hanya itu, strategi memanfaatkan sosial media sebagai media promosi, terbukti ampuh. Tak sedikit wisatawan asing yang melirik dan tertarik dengan konsep yang ditawarkan oleh panitia pelaksana. Mereka datang, mereka menari, mereka bernyanyi, mereka bersenang-senang.

300 kuota pengunjung yang dipatok panitia yang terdiri dari paket VIP, paket tenda dan paket festival, sold out. Keraguan terjawab sudah. Musik Hutan sukses besar.

Di tengah teduhnya hutan pinus Bengo-Bengo, para pengunjung dihipnotis oleh alunan musik dari para musisi lokal. Hal ini disempurnakan dengan beragam pertunjukan lainnya seperti pentas teater, pembacaan puisi, pameran, diskusi lingkungan dan literasi hingga lezatnya pelbagai jenis pilihan makanan di foodcourt yang disiapkan panitia.

Penyelenggaraan Musik Hutan yang pertama pun menjadi pondasi awal penyelenggaraan Musik Hutan di tahun-tahun berikutnya.

Aturan yang ditetapkan pihak panitia terbukti bernilai manfaat bagi pelestarian dan perlindungan alam. “Saat itu kami menyiapkan sanksi denda bagi para pengunjung yang membuat api unggun di sembarang tempat, merusak pohon dan membuang sampah sembarangan,” terang Bobay Fajar Purna, salah seorang inisiator Musik Hutan.

Sanksi berupa denda sebesar Rp 50 ribu bagi pengunjung yang buang sampah tidak pada tempatnya, Rp 500 ribu bagi yang membuat api unggun di sembarang tempat dan sanksi sesuai aturan kehutanan bagi yang merusak pohon, di kemudian hari terbukti berdampak nyata pada pelestarian dan perlindungan lingkungan, serta hidupnya ekonomi kerakyatan melalui sektor pariwisata. “Awalnya kami cuma tak ingin hutan kotor,” terang Bobay.

Selanjutnya : Musik Hutan II 2015 >>

Bagikan Ke
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Topik Terkait

About Us

Katakerja.id adalah perusahaan pers dengan platform berita berbasis online yang dibuat berlandaskan kaidah-kaidah jurnalisme yang baik dan benar. Kami berharap bisa memberi manfaat dalam upaya menghadirkan optimisme dan menciptakan semangat positif di negeri ini.

Office

©2021  |  

katakerja.id  |  

Cari Berita ?

Mau Lihat Arsip ?

Arsip Berita Kami