Muhammad Irpan, SE - (handover)

Pantang Menyerah, Dulu Kuli Kini Jadi Pengusaha

Bagikan Ke
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

KataKerja.idBERITA – Mimpi adalah sebuah kekuatan, dan itu telah dibuktikan oleh Muhammad Irpan, seorang putra daerah Massenrempulu. Atas nama cinta pada orang tua dan keluarganya, pria kelahiran Kalosi, 5 September 1984 itu pun berhasil mewujudkan mimpinya.

Berbekal semangat, kerja keras dan kejujuran, Irpan kini sudah mulai memetik buah dari usahanya selama ini. “Apa yang saya capai saat ini, itu semua adalah berkat Tuhan semata. Saya tidak akan sampai di titik ini, tanpa ridho-Nya,” kata Irpan.

Selepas tamat sekolah menengah tingkat atas, Irpan memutuskan untuk merantau meninggalkan kampung halamannya, Kalosi, Kecamatan Alla, Kabupaten Enrekang, untuk mengadu nasib di rantau.

“Pada saat saya kelas 3 SMK, bapak saya meninggal. Orang yang selama ini menjadi panutan saya. Sebagai anak laki-laki yang sudah dewasa, praktis merasa bertanggungjawab dengan keluarga. Saya akhirnya memutuskan untuk merantau, merubah nasib,” kata pria yang bergelar sarjana ekonomi itu.

Setelah sebelumnya di Kalosi sempat bekerja serabutan, menjadi kuli bangunan dan juga menjadi sopir mobil angkutan, tahun 2006 akhir, Irpan pun akhirnya hijrah ke Jayapura. Daerah yang sebelumnya tidak pernah Ia bayangkan akan mengubah nasibnya.

“Sepeninggal bapak, saya kerja serabutan. Asal itu halal, saya kerja saja. Saya tidak pilih-pilih pekerjaan, apalagi mau gengsi. Sebab, di rumah banyak yang sudah menjadi tanggungan saya. Intinya, saya harus menghasilkan, agar kita sekeluarga bisa menyambung hidup,” kenang ayah 4 anak tersebut.

“Saya memilih merantau ke Jayapura, karena saya dengar-dengar di sana untuk mendapatkan pekerjaan masih agak lumayan mudah. Walau sebenarnya, di mana saja kalau memang niat bekerja, selalu ada pekerjaan,” sambungnya.

Irpan menceritakan awal-awal dirinya ke Jayapura, Ia tinggal di tempat keluarga. “Namanya orang merantau saya kerja serabutan saja, sekitar dua bulan saya menjadi kuli atau buruh bangunan. Lalu menjadi sopir mobil boks selama kurang lebih 10 bulan,” jelasnya.

Irpan mengenang, dirinya juga hampir putus asa di tanah rantau. Kerasnya kehidupan, membuat semangatnya hampir patah. Namun saat mengingat kembali kondisi keluarga di kampung, Irpan mengaku kembali mendapatkan tambahan semangat.

“Namanya perantau, tentu ada yang pernah mengalami fase ini. Tapi teringat keluarga di kampung, saya kembali semangat untuk berjuang. Apalagi jika mengingat-ngingat sosok bapak yang pekerja keras, semangat saya seperti terpacu lagi. Pokoknya harus berhasil baru pulang kampung, itu kalimat yang saya selalu tanamkan,” ujarnya bersemangat.

Pada saat menjadi sopir inilah, Irpan berkenalan dengan seorang Aparatur Sipil Negara yang menjabat sebagai salah satu kepala dinas di Tolikara. Kelak, orang ini kemudian mengangkatnya menjadi saudara angkat.

“Kalau ditanya siapa orang yang berjasa dalam kehidupan saya di tanah rantau, maka saya akan menjawab, selain keluarga yang awal-awal menampung saya, inilah dia orangnya. Awalnya saya diangkat jadi sopir pribadi, tapi akhirnya hubungan kami sudah seperti saudara. Beliau banyak berjasa, sehingga Alhamdulillah saya bisa seperti sekarang ini,” tuturnya.

Dari perkenalan inilah, Irpan mengaku banyak belajar dan mulai mengenal sejumlah orang berpengaruh. “Namanya sopir pejabat yang sudah merangkap sekretaris pribadi (Sespri, red), kita akan banyak berkenalan dengan orang-orang penting. Banyak belajar bagaimana membangun relasi dan sebagainya,” jelasnya.

Tahun 2009 atau setahun lebih setelah menjadi Sespri, Irpan memutuskan mengakhiri masa lajanganya. Irpan memperistrikan perempuan berdarah Toraja. “Saya menikah tahun 2009. Perempuan berdarah Toraja itu berhasil menaklukkan hati saya. Saya boleh dibilang cinta sekali dengan istri saya ini,” kata Irpan.

Sebagai orang yang sudah berumahtangga, Irpan dituntut untuk berpikir lebih keras lagi. Akhirnya, tahun 2010 ia meminta ijin secara baik-baik kepada saudara angkatnya untuk mencoba peruntungan lain secara mandiri.

“Itu sebuah keputusan yang tidak mudah. Meninggalkan orang yang sudah menganggap kita saudara. Tapi saudara saya itu juga mengerti dan memberikan supportnya kepada saya. Akhirnya Bismillah, saya mencoba berusaha secara mandiri,” kata pria yang hobi olahraga ini.

Di tahun 2010 inilah Irpan membuat perusahaan untuk pertamakali yakni, PT Kreasi Papua Sejahtera, yang bergerak dalam bidang jasa pengiriman dan pengangkutan barang. “Awal-awal perusahaan saya menangani pengiriman logistik alat kelengkapan pencoblosan hingga ke setiap Tempat Pemungutan Suara (TPS),” ujarnya.

“Bahkan untuk mengangkut kertas suara yang sudah tercoblos untuk dibawa ke KPU, itu kita juga yang kerja. Beberapa KPU di beberapa kabupaten menjadi rekan kita. Alhamdulillah, itu awal-awal yang dikerjakan perusahaan saya hingga tahun 2013,” tambahnya.

Dari sinilah, perjalanan hidup Irpan perlahan membaik. Tahun 2015 ia mendirikan beberapa perusahaan, diantaranya perusahan yang bergerak di bidang infrastruktur dan pesawat carteran. “Alhamdulillah tahun 2015 kami sudah mulai mengerjakan proyek-proyek nasional seperti jalan trans Papua,” katanya.

“Di tahun yang sama saya juga mendirikan perusahan PT Cendrawasih Air Service yang bergerak di bidang jasa penyewaan pesawat carteran. Tapi nanti beroperasi secara profesional itu di tahun 2018, setelah menanamkan investasi pembelian sejumlah pesawat Grand Caravan,” ujarnya.

Ketika ditanya soal apa lagi yang ingin dicapainya dalam hidup, Irpan yang dikenal sosok sederhana dan ramah kepada semua orang ini mengatakan, untuk pencapaian secara pribadi dia merasa sudah sangat cukup, bahkan sudah sangat lebih dari cukup.

“Secara pribadi saya sudah sangat merasa cukup. Bahkan sudah lebih. Alhamdulillah Allah memberikan saya banyak sekali. Tapi yang menjadi harapan saya saat ini, bagiamana saya bisa berbuat lebih kepada banyak orang. Kepada keluarga saya, kerabat-kerabat saya, bahkan orang-orang di kampung saya,” katanya.

Selain itu, saat ini yang menjadi fokus dari Irpan, bagaimana bisa membahagiakan orang tua dan saudara-saudaranya yang lain. “Kita mungkin bisa berganti teman dan sahabat, tapi sosok ibu itu tak akan bisa tergantikan oleh apapun. Sekarang, saya hanya ingin mebahagiakan ibu saya, sosok yang jasanya tidak bisa dinilai dengan apapun,” jelas Irpan.

“Ibu dan semua saudara-saudara saya lah yang menjadi alasan, penyemangat, hingga saya bisa seperti sekarang ini. Selain itu, kegigihan bapak saya dulu, juga selalu saya jadikan contoh agar tidak mudah menyerah dalam hidup ini,” ucapnya.

Bagi Irpan, peran keluarga dalam hidupnya baik itu orangtua, istri, saudara-saudara dan anak-anaknya, itu sangat besar dan tak ternilai. “Mereka semua adalah penyemangat saya ketika saya sedang dalam titik terendah. Istri saya juga selalu ada di samping saya saat saya lagi down. Dia sosok istri yang banyak mengajarkan arti kesabaran,” tutupnya.

Data diri:

Nama: Muhammad Irpan, SE
Tempat menetap: Kota Makassar
Istri: Esny Masekken
Anak:
– Ervin Wijaya
– Evan Wijaya
– Reva Sari Putri
– Ravi Wijaya

Riwayat Pendidikan:

SD MIS Muhamaddiyah Kalosi
SMP Belajen
SMK 45 Kalosi
STIE Portnumbay Jayapura

Perusahaan:

PT Kreasi Papua Sejahtera
PT Cendrawasih Air Service
PT Sinar Latimojong Permai

Bagikan Ke
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Topik Terkait

About Us

Katakerja.id adalah perusahaan pers dengan platform berita berbasis online yang dibuat berlandaskan kaidah-kaidah jurnalisme yang baik dan benar. Kami berharap bisa memberi manfaat dalam upaya menghadirkan optimisme dan menciptakan semangat positif di negeri ini.

Office

©2021  |  

katakerja.id  |  

Cari Berita ?

Mau Lihat Arsip ?

Arsip Berita Kami