George Floyd - (foto by int)

Rest in Power, Floyd

Bagikan Ke
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

KataKerja.id, CATATANKAKI – George Floyd mati di negeri yang mempertuhankan demokrasi. Dunia menjadi saksi mata betapa jahatnya kebencian terhadap warna kulit yang merasuki Derek Chauvin. 

Pria besar berkulit hitam itu merintih. Dia kesakitan. Nafasnya sesak. Lutut sang opsir polisi berkulit putih itu menindih kuat pangkal lehernya.

Floyd menyebut nama tuhan. Ia juga beberapa kali memanggil mamanya. “Saya tak bisa bernafas.” Ia memelas memohon ampun. Dia bahkan memohon agar tak dibunuh, tapi sang opsir berbaju biru muda itu mengabaikan semuanya. Floyd akhirnya menyerah pada takdir. Sebelum ambulance datang, ia sudah tak bergerak. 

Senin, 25 Mei 2020, sehari setelah kejadian, polisi di Minneapolis mengumumkan kematiannya. Dan amarah pun meledak di negara yang menjadi tanah air kebebasan itu.

Hingga hari ini, Paman Sam masih sibuk mengurus rakyatnya yang marah. Mereka muak pada jargon hak asasi yang membohongi fakta. Ratusan tahun menyemai demokrasi dan kebebasan, kenyataannya adalah Amerika Serikat masih berkutat pada hal yang sama. Kebencian yang lahir sebelum demokrasi rupanya tak pernah benar-benar mati di negara itu.

Berjarak sekitar 14 ribu kilometer dari Amerika Serikat, hari ini, 1 Juli 2020, kami di Indonesia tengah memperingati hari lahirnya Pancasila yang ke 75.

Di negeri yang kekayaan alamnya melimpah ruah ini, nenek moyang kami tak pernah berkoar tentang demokrasi dan kebebasan. Para tetua malah mengajarkan kami tentang kebhinekaan dan toleransi. 

Dan di hari yang bahagia ini, hari di mana kami merayakan ideologi negara kami, atas nama rakyat Indonesia, kami bersumpah, sungguh, kami bersumpah…kami belum bisa mewujudkan ke lima sila di dada Sang Garuda seperti yang diimpikan para tetua kami.

Hingga hari ini, masih ada saja diantara kami yang merawat kebencian karena berbeda tuhan. Kemanusiaan malah lebih sering jadi jualan buat mengeruk keuntungan pribadi. Jangan bertanya dulu tentang persatuan. Doakan kami agar berhasil kembali merekatkannya. Kebijaksanaan dalam permusyawaratan dan perwakilan bahkan katanya hanya milik para tuan. Dan tentang keadilan sosial, silahkan bertanya langsung ke pada seluruh rakyat indonesia. Tabe!

 

Penulis,

Abo Stanley

Makassar, 1 Juli 2020

Bagikan Ke
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Topik Terkait

About Us

Katakerja.id adalah perusahaan pers dengan platform berita berbasis online yang dibuat berlandaskan kaidah-kaidah jurnalisme yang baik dan benar. Kami berharap bisa memberi manfaat dalam upaya menghadirkan optimisme dan menciptakan semangat positif di negeri ini.

Office

©2021  |  

katakerja.id  |  

Cari Berita ?

Mau Lihat Arsip ?

Arsip Berita Kami