Tata Mandong - (foto by ibnu)

Tata Mandong, Cerita Tentang Rindu dan Cinta 

Bagikan Ke
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

KataKerja.idCATATANKAKI – Asma akhirnya tak mampu lagi menahan kesedihannya. Ibu dua anak itu berulang kali menyeka genangan bening di kelopak matanya. Ia menangis.

Ini sedih yang sudah tiga tahun menyesakkan dadanya. Lara yang hari ini akhirnya pecah di hadapan orang tua berumur 83 tahun, yang terbaring tanpa daya di hadapannya.

Orang tua itu bernama Tata Mandong. Sejak 3 Juli 2017 silam, orang tua itu harus meninggalkan rumah kecil berdinding papan yang sangat dicintainya di sebuah lembah bernama Ramma. Yang tersisa kini hanya rindunya yang ingin pulang.

Kondisi fisik yang menurun drastis saat itu membuat Tata Mandong terpaksa ditandu meninggalkan Lembah Ramma. Asma yang merupakan anak dari Tata Kumi, kakak kandung Tata Mandong, merekam dengan detail ingatan akan peristiwa tersebut. “Anakku dan ponakanku yang tandu Tata dari Ramma sampai ke rumah,” terang ibu berusia 43 tahun itu.

Tata Mandong harus pasrah pada kenyataan. Tubuhnya tak kuasa lagi menahan beban sang waktu. Ini tahun ketiga Tata Mandong melewati hari-hari nan panjang bergelimang rindu di rumah Asma di Lingkungan Bontotene, Kelurahan Bontolerung, Kecamatan Tinggimoncong, Gowa.

Ia rindu rumahnya, ia rindu pepohonan, ia rindu kabut, ia rindu Lembah Ramma. Ia memang sudah terlanjur menyerahkan seluruh cintanya pada lembah itu. “Kalo pagi, selalu itu kodong keluar duduk-duduk depan rumah. Nda lama itu masuk mi lagi baru menangis. Pokoknya asal dia liat ke arah Ramma, pasti menangis ki’ lagi,” jelas Asma lirih.

Asma masih saja terus menyeka air matanya. Ia tahu bagaimana besarnya rindu yang kini bersemayam di hati sang paman. Tak terhitung sudah berapa kali Tata Mandong meminta diantar kembali ke Lembah Ramma. Tapi Asma tahu kalau itu mustahil. “Siapa yang mau jagai ki’ kodong kalo di sanai, pak.” Usia yang terus menua dan penyakit stroke yang menggerogoti fisiknya memang telah mengambil begitu banyak darinya, tapi tidak dengan cinta dan rindunya.

Kecintaan Tata Mandong pada Lembah Ramma berawal dari kecintaannya pada hutan, pada gunung dan pada alam. Puluhan tahun dilaluinya dengan berpindah dari satu hutan ke hutan lainnya di Kabupaten Gowa. “Waktu saya masih SD (sekolah dasar, red), masih delapan tahun umurku waktu itu, pernah ka’ ikut Tata jalan-jalan ke hutan yang na jaga di Topidi. Ada juga pondoknya di situ,” ungkap Asma.

Beberapa kali berpindah, tugas Tata Mandong sebagai penjaga hutan membawa langkahnya ke kawasan hutan di Lembah Lohe dan akhirnya berlabuh di Lembah Ramma pada tahun 2003.  Asma beruntung masih mengingat banyak kisah perjalanan sang paman. “Pernah juga na cerita Tata, katanya pertama kerja sebagai penjaga hutan, gajinya dua ribu (rupiah, red) sebulan.”

Di Lembah Ramma, selain menjaga hutan dari pembalakan liar dan kebakaran, Tata Mandong juga melakukan banyak hal. Di sekitar rumah kecilnya, ia membuat kolam ikan. Tak terhitung pula berapa banyak pohon yang telah ditanamnya di lembah itu.

Di lembah yang terletak di kawasan Gunung Bawakaraeng itu pula terjalin ikatan emosional antara Tata Mandong dengan para pecinta alam. Rumah kecil milik orang tua bertubuh kecil kelahiran 1 juli 1937 silam itu selalu sesak dengan kehadiran para petualang yang datang silih berganti. Terutama di akhir pekan. Ia menikmati itu. Baginya, para pecinta alam yang berkunjung ke Ramma adalah tamu yang baik. Ia bahkan menganggapnya sebagai anak.

Sesekali ia melewati malam di Ramma dengan memetik kecapi. Ia juga kerap menghangatkan badan dengan menikmati api unggun bersama anak-anak muda yang datang dengan memanggul kerel. Hari-harinya di Ramma adalah hari penuh cinta.

Sebenarnya Tata Mandong punya banyak keluarga. Ia punya delapan saudara. Meski tak punya anak, ia pernah dua kali duduk di pelaminan walau akhirnya harus berpisah dengan kedua istrinya. Dengan semua itu, hidup menyendiri dalam heningnya Ramma menjadi pilihannya.

Namun, kini cintanya pada Lembah Ramma berubah menjadi rindu yang tak berujung. Semua kenangan di Ramma begitu menyiksanya. Betapa ia ingin kembali ke lembah itu, tapi apa daya, sakitnya tak kunjung membaik.

Sabtu, 30 Agustus 2020 lalu, kondisinya bahkan kian memburuk. Sosok bersahaja itu kini hanya bisa terbaring. 3 tahun silam, dokter memang telah memvonisnya terserang stroke yang juga telah menyerang syaraf bicaranya.

Dalam sakitnya, Tata Mandong masih saja terus meminta dibawa kembali ke Ramma. Permintaan yang begitu sulit diwujudkan oleh sang ponakannya yang setia merawatnya.

Asma masih tetap duduk tak jauh dari pembaringan pamannya. Sesekali ia terlihat masih menyeka kelopak matanya. Tak berbilang doa-doa yang terus dipanjatkannya. “Mau skali ka liat Tata Mandong sembuh. Mau sekali itu juga kodong sembuh karena mau kembali ke Ramma. Malah selalu mi na bilang mau dikubur di Ramma nanti kalo mati (meninggal dunia, red) ki’.”

Tak ada yang bisa menakar betapa besar cinta Tata Mandong pada rumah kecilnya yang berdinding kayu dan juga pada Lembah Ramma. Tapi, Tata Mandong rupanya juga menyimpan cinta yang lain. Bukan hanya pada rumah kecilnya dan Lembah Ramma. Cinta itu dipendamnya diam-diam. “Mau sekali itu nanti dikubur di Ramma, pak, kalo mati ki’. Itu ji selalu pesannya. Kalo di Ramma bedeng dikubur, ada terus ji nanti itu anak-anak pecinta alam yang selalu datang liat ki’. Na suka sekali memang itu kodong kalo rame anak-anak pendaki di rumahnya.”

Penulis,

Abo Stanley

Bontolerung, 3 September 2020

Bagikan Ke
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Topik Terkait

About Us

Katakerja.id adalah perusahaan pers dengan platform berita berbasis online yang dibuat berlandaskan kaidah-kaidah jurnalisme yang baik dan benar. Kami berharap bisa memberi manfaat dalam upaya menghadirkan optimisme dan menciptakan semangat positif di negeri ini.

Office

©2021  |  

katakerja.id  |  

Cari Berita ?

Mau Lihat Arsip ?

Arsip Berita Kami